Etude

Merombak Atribut Bangunan

Hal apa yang kamu tangkap dari ketiga gambar diatas? Sebenarnya, gambar itu berkaitan dengan topik yang akan dibahas.

“Semiotika” dan “Dekonstruksi”, terkesan bahasa yang berat ‘agak-agak’ tergolong filsafat tapi sebenarnya secara tidak sadar kita menggunakan kedua hal itu dalam kehidupan sehari-hari, kok. Semiotika, adalah atribut yang biasa digunakan manusia untuk mengetahui dan membedakan satu hal dengan lainnya berdasarkan ciri khas yang ada. Gampangnya, kenapa kamu bisa menyebut gambar di atas adalah rumah ibadah? Dari bentuknya? Ornamennya? Aspek – aspek khas itu lah yang dimaksud sebagai semiotika, sebuah tanda yang ada untuk mendefinisikan suatu hal.

Lihat kan, kata “semiotika” yang berat sebenarnya memiliki arti yang sederhana, hanya sebuah respon manusia untuk mengelompokkan sesuatu yang berdasarkan tanda-tanda dari hal tersebut. Kalau semiotika berasal dari tanda untuk identifikasi, maka dekonstruksi justru mengubahnya dan malah ekstremnya menghilangkan tanda dari hal tersebut. Contoh gampangnya, perubahan kata dari makna yang sama, yaitu kata ‘santai’ jadi ‘sans’, ‘bapak’ jadi ‘bokap’, atau hal-hal yang terkesan sepele seperti pertanyaan dari teman di waktu saya senggang. Kelemahan dari dekonstruksi ini adalah ketika semua orang mendekonstruksi semua hal tanpa adanya kesamaan maksud atau definisi, akibatnya akan menjadi kacau balau karena tidak ada kesepakatan di masyarakat terhadap sesuatu hal. Nah lho? Opiniku, dekonstruksi ini hadir hanya sebagai penghibur untuk orang-orang yang jenuh dengan aspek yang berkaitan dengan suatu hal.

Lalu, apa hubungannya semiotika dan dekonsturksi dengan arsitektur?

Dekonstruksi di arsitektur ini lahir karena seorang arsitek yang kebetulan memiliki sahabat seorang filsuf, mencoba untuk mengaplikasikan konsep dekonstruksi di dunia nyata, dengan mengikuti sayembara dan ternyata berhasil menarik perhatian banyak orang. Arsitek ini Peter Eisenman dan sahabatnya Jacques Derrida. Karena dianggap unik, dekonstruksi ini dianggap menjadi sebuah gaya oleh Bernard Tschumi dan gaya ini kemudian diikuti oleh beberapa arsitek ternama lainnya.

Jadi, kita sudah sampai di akhir tulisan, akan kujawab bahwa gambar pertama itu adalah Gereja Katedral Santo Basil, Moskow. Gambar kedua itu Hagia Sophia, sebuah gereja yang dua kali beralih fungsi, pertama menjadi masjid dan akhirnya menjadi museum. Lalu, gambar terakhir adalah sebuah gereja yang didatangi umat muslim setiap waktu shalat tiba. Kok bisa? Iya ini dikarenakan di dalam gereja tersebut tersedia masjid untuk para muslim dari berbagai kalangan, sunni, syiah, wahabi, dan lain-lain. Terus ada lagi, gambar terakhir itu hotel, lho. Kebayang, kan mengapa gambar tersebut dimasukkan untuk pembahasan kita kali ini?

Akhir kata, fenomena ini membuktikan salah satu pepatah, “don’t judge a book by its cover”, rite? Kuyakin, di luar sana, masih banyak dekonstruksi yang keberadaannya belum kita sadari saja. Yuk, kita cari tahu lebih banyak lagi! (Hafidz)

 

Referensi:

Semiotika http://bit.ly/2wMv7a8

Dekonstruksi Jacques Derrida and Peter Eisenman, Chora L Works (New York: Monacelli Press, 1967)

Hagia Sophia, Constantinople Müller-Wiener (1977), p. 112. | http://www.hagiasophia.com/

The Cathedral of Vasily the Blessed / Katedral St. Basil. Moscow, Rusia. http://bit.ly/Q3SZNf

Masjid Bunda Maria, Abu Dhabi. http://bit.ly/2vJZmex | http://bit.ly/2vR2fOV

Hotel tanpa bangunan, Swiss http://huffp.st/H8snD2g

 

Kontributor : Hafidz

Editor: Alisia Amanda Djailani

Add comment

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.

Most popular

Most discussed