Etude
Romo Mangun

Kapel Para Rasul : Maha Karya Romo Mangun

Romo Mangun

Di suatu siang di hari Minggu, jiwa kami yang impulsif harus menantang waktu. Kendaraan kami melaju cepat, membawa kami ke Desa Banjaroyo, Kecamatan Kalibawang, Kabupaten Kulon Progo. Kilometer demi kilometer perjalanan, lingkungan sekitar menjadi semakin asing. Di hadapan, terbentang lereng-lereng gunung yang sedikit curam, memaksa mesin kendaraan untuk berposisi di gigi satu.

Kami menghentikan perjalanan di suatu sudut pedesaan, lalu melangkah masuk melewati gapura dengan susunan material batu alam setinggi 3 meter. Kami menyusuri ramp yang dipenuhi toko-toko kecil di sisi jalan, berjualan lilin bergambarkan Jesus di badan lilinnya. Kami beralih ke arah Barat, mengikuti jalan setapak yang mengarah menuju tempat ziarah. Semakin dekat, atap “gunung” ala Romo Mangun mengintip dari sela-sela dedaunan, seolah memanggil – manggil dan ingin membuat kami penasaran. Bangunan itu adalah Kapel Para Rasul. Kapel ini terdiri dari tiga massa bangunan yang digabungkan, yang masing-masing disangga dengan satu kolom utama. Di sisi utara bangunan, ada sebuah amphitheatre yang diperuntukkan kepada jemaat yang hendak beribadat.

Sedikit demi sedikit kami melangkah menjelajahi kontur Sendangsono, hingga kami dihadapkan dengan Gereja Maria. Tatanan ruang di dalamnya terasa melingkupi jiwa yang sedang lelah menghadapi dunia yang serba tak pasti. Atap yang cukup rendah menciptakan intimasi hubungan antara ruang dan manusia di dalamnya. Beberapa bukaan berbentuk lingkaran menjadi isyarat bahwa hubungan pendatang dengan warga maupun bangunan dengan warga sekitar sangatlah terbuka. Experience ini menjadi suatu nilai yang berharga, dengan adanya keterbukaan, hubungan bangunan dan sekitarnya berjalan harmonis karena rasa peduli yang bersama-sama telah ditumbuhkan terhadap komplek ziarah tersebut.

 

Sendangsono terdiri dari kata “sendang” yang artinya mata air dan “sono” dari pohon sono, sehingga Sendangsono adalah mata air di bawah pohon sono. Dahulu Romo Van Lith membaptis 171 warga setempat dengan air dari kedua pohon sono. Lalu, 25 tahun kemudian Sendangsono dinyatakan resmi menjadi tempat penziarahan ole Romo JB Prennthaler SJ.

Perjalanan mengitari komplek ziarah Sendangsono tidak terputus oleh dialog antarmaterial yang digunakan di setiap pijakan kaki kita, maupun bidang yang melingkupi. Sejarah kehidupan dan perjuangan Jesus digambarkan dengan relief, ornamen, dan sculpture yang memperkaya suasana religius Sendangsono. Aliran sungai membelah Sendangsono menjadi dua bagian, dan dari kedua daratan yang terbagi dapat dinikmati aliran sungai yang terbendung dan menghidupi ikan-ikan di petak-petak kecil di sepanjang alurnya. Sedekat-dekatnya dengan sungai, kita bisa mencicipi kesegaran air dari keran yang terpasang di jalan setapak di tepian sungai.

 

Pengalaman paling menarik adalah saat berjalan kesana kemari, kita disuguhkan ratusan anak tangga untuk menjelajahi kontur Sendangsono yang condong ke aliran sungai. Anak-anak tangga tersebut dirancang menanggapi kontur yang berbukit dengan paving berbentuk segi enam yang disusun selang-seling. Ketinggian tiap anak tangga yang sama mempermudah kita untuk naik-turun tangga tanpa merasa lelah.

 

Satu hal yang menunjukkan korelasi rancangan Romo Mangun ialah rumah panggung dengan struktur “A” yang berdiri kokoh. Atap khas Romo Mangun menunjukkan kepekaan beliau menanggapi daerah beriklim tropis dengan kemiringan atap yang tepat dan ditutup oleh genteng tanah liat merah. Rumah panggung ini dirancang untuk menaungi siapapun yang membutuhkan ruang berkumpul ataupun beristirahat. Rumah panggung yang serupa juga bisa kita temui di Kampung Code sebagai tempat belajar-mengajar maupun tempat berkumpul para warga.

Begitu berpengaruh rancangan seorang arsitek yang dapat menciptakan keselarasan dalam segala aspek. Kepekaan terhadap tapak menjadi kunci yang dapat membuat suatu rancangan tidak akan lekang oleh waktu (REITA)

 

Referensi:

http://bit.ly/2wuuEFX

http://bit.ly/2dvrKHx

Artikel ini pernah dimuat di http://arsitekturdanlingkungan.wg.ugm.ac.id/2017/10/30/721

Add comment

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.

Most popular

Most discussed