Etude
Geerative design

Generative Design: Memberi “Arsitek” Definisi Baru

Geerative design

“A person who designs building”

kalimat di atas menjadi definisi umum dari kata ‘architect’ baik dari kamus bahasa inggris maupun anggapan masyarakat. Kalimat tersebut juga memaparkan kata design sebagai kata kerja yang berarti decide upon the look and functioning of an object (Oxford Dictionary). Dalam hal ini dapat disimpulkan definisi arsitek secara harfiah yaitu sebagai penentu bentuk dan fungsi sebuah bangunan.

Teknologi semakin berkembang, inovasi semakin beragam. Muncul berbagai cara baru yang diterapkan seorang arsitek dalam mengolah desain. Salah satunya yaitu Generative Design. Menurut Bohnacker, Generative Design adalah metode desain dimana output dibuat dengan rangkaian aturan atau algoritma menggunakan komputer. Sedangkan menurut Fisher, Generative Design yaitu metode desain yang berbeda dengan pendekatan desain pada umumnya, dimana desainer tidak secara langsung menangani produk dan material selama proses desain. Dari kedua definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa generative desain menekankan pada metode selama proses desain dibanding dengan hasil desain itu sendiri.

Perbedaan metode pendekatan desain pada Generative Design dan metode umum dipaparkan oleh Al-khaldi dalam bentuk diagram.

Gambar 1.1                 Source: (El-khaldi, 2007)

Proses desain metode umum diawali dengan mengumpulkan data dan menganalisis site, membuat konsep desain, dan menambah kemungkinan eksekusi desain dari klien. Kelemahan pada proses ini yaitu alternatif desain yang dihasilkan cenderung sedikit.

Gambar 1.2                 Source: (El-khaldi, 2007)

Ilustrasi kedua menggambarkan diagram sistem generative design. Di antara tahap pengolahan konsep dan solusi terdapat proses komputer menterjemahkan bahasa desain ke eksekusinya. Selain banyak alternatif yang diberikan, kadang alternatif tersebut tidak terpikirkan oleh manusia.

Disini kita bisa melihat peran arsitek sedikit bergeser dari pembuat desain menjadi pembuat aturan desain. Aturan yang dibuat biasanya mengambil dari konsep natural science dan formal science sebagai acuannya. Dalam hal pemrograman, computer science juga berperan. Oleh karena itu sistem generative design melibatkan kerjasama multidisiplin ilmu.

Contoh arsitek yang menerapkan generative design yaitu Michael Hansemeyer. Ia mengambil konsep pembelahan sel, merombaknya, yang kemudian menghasilkan sesuatu yang baru. Michael Hansemeyer menganalogikan konsep tersebut seperti melipat sebuah kertas menjadi beberapa bagian, kemudian formasi pembentukannya dapat menghasilkan beragam bentuk. Jika dipindah dengan sistem komputer dapat menghasilkan bentuk yang kompleks dan rumit. Salah satu karyanya yaitu eksplorasi bentuk kubus berikut, dengan 16 titik lipatan dengan tingkat lipatan yang bervariasi.

Gambar 2.1                 (Hansemeyer, 2012)

Neri Oxman menerapkan konsep morfogenesis alam yang diolah secara digital. Salah satu karyanya yaitu Silk Pavillion yang mengadaptasi cara kerja ulat sutra membuat kepompongnya, dengan memadukan teknologi dan biologi. Rangka awal kepompong dengan robotic arm yang terprogram. Kemudian 6500 ulat sutra diletakkan pada pavillion untuk menganyam  pavillion tersebut. (Lintang)

Daftar Pustaka

Ahmed M. 2015. An Application on Digital – Botanic Architecture (D.B.A). University of Alexandria.

Neri Oxman – TED Talks Design at the intersection of technology and biology http://bit.ly/1Mglq5h
Michael Hansmeyer – Building unimaginable shapes http://bit.ly/2b0lQAT

http://bit.ly/2f8aNXm

 

Kontributor : Alya Lintang

Editor: Alisia Amanda Djailani

Add comment

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.

Most popular

Most discussed