Etude
Elevasi nilai ruang pada arsitektur - Etude

Elevasi Nilai Ruang Pada Arsitektur

 

Etude-elevasi nilai ruang pada arsitektur
Sumber gambar: Casa Indonesia http://bit.ly/2wD6MSe, http://bit.ly/2gIy9GB

Arsitektur telah menjadi suatu bidang keilmuan yang dipandang berkaitan erat dengan bangunan; gedung, rumah, dan sebagainya—bahkan ilmu arsitektur sendiri kerap disebut sebagai ‘seni membangun bangunan’. Bicara arsitektur berarti bicara bentuk, ruang, struktur, dan fungsi. Keempat aspek tersebut adalah basis dari ilmu arsitektur.

Seiring berjalannya waktu, makna ‘ruang’ dalam arsitektur mengalami perkembangan besar. Pada awalnya mungkin kita menganggap bahwa ‘ruang’ adalah empat bidang vertikal yang membentuk persegi, dan pintu adalah akses yang memungkinkan kita menuju ruangan lain. Persepsi kita tentang ‘ruang’ adalah sebuah ruangan fisik, yang keberadaannya memiliki batas – batas jelas. Padahal ketika bicara dalam skala lebih besar –misalnya di ekosistem alam, sebuah pohon akasia di tengah savanna yang menjadi tempat bernaung hewan adalah ruang – tanpa pintu, tanpa bidang vertikal yang melingkupi. Contoh lain, apabila kita duduk di atas sebuah batu di tengah padang rumput yang lapang, itu juga menjadi ruang. Terlepas dari subjek contoh yang digunakan, kita sudah mendapat definisi baru mengenai ruang. Definisi pertama tidak berarti salah karena secara eksterior—berdasarkan Alexander et al 1977, keadaan tersebut kemudian kita kenal sebagai ruang positif. Sementara definisi kedua adalah ruang negatif yang kerap sulit dibayangkan karena batasnya yang kurang jelas. Lantas apa yang bisa dilakukan terhadap aspek ‘ruang’ dalam konteks arsitektur selanjutnya?

Memasukkan ide rancangan ke dalam ruang bukanlah suatu perkara mudah karena arsitektur harus mempertimbangkan fungsi serta menjawab masalah. Banyak nilai yang harus dihimpun untuk mengubah atau menghasilkan nilai baru. Misalnya pada sebuah rumah adat, proses pembangunannya merepresentasikan nilai kebudayaan dan keleluhuran yang kuat. Di beberapa tempat bahkan sangat jelas siapa yang harus meletakkan tiang pancangnya sebagai wujud dari kebudayaan yang sudah mengakar. Penempatan kamar juga memiliki aturan pembagian khusus demi menjaga interaksi sosial dan filosofi yang dipercaya.

Nilai yang saling berkaitan pada bangunan tradisional tetap bertahan pada arsitektur modern. Salah satu contohnya adalah public space yang tengah populer di Jakarta yakni Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) Kalijodo. Kalijodo seperti yang kita ketahui sebelumnya merupakan kawasan lokalisasi prostitusi terbesar di Jakarta yang bernilai rendah  jika disorot lewat kacamata moral dan perihal susila. Berkat perubahan yang dilakukan, saat ini kawasan Kalijodo menjadi RPTRA yang dapat memfasilitasi beragam aktivitas publik. RPTRA Kalijodo dilengkapi ruang bermain anak, dan fasilitas olahraga lain seperti lapangan futsal, badminton, voli, hingga arena sepeda BMX dan Skate Park. Warga bisa berolahraga, berinteraksi, atau sekedar relaksasi dengan menghirup udara segar dan menikmati ruang publik yang lebih tertata. RPTRA Kalijodo adalah representasi nyata bagaimana nilai negatif yang sebelumnya ada, bisa diangkat menjadi nilai yang jauh lebih positif lewat perancangan ruang yang tepat sasaran.

Selamanya arsitektur akan selalu berdiri atas nilai dan menghasilkan nilai baru. Tentu saja bukan tanpa alasan dan tujuan melainkan demi mempersembahkan suatu fungsi untuk kebaikan bersama.

 

Kontributor : Amanda Pragita Setyaningrum

Editor: Alisia Amanda Djailani

Add comment

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.

Most popular

Most discussed