Etude

Eco-Cultural & Regional Design Adaptation in Sustainability

Arsitektur berkelanjutan, atau yang biasa disebut dengan sustainable architecture, merupakan topik yang sering didiskusikan. Topik ini dikenal dengan berbagai istilah yang muncul mulai akhir abad ke-20 dan hingga dewasa ini istilah-istilah itu masih sering digunakan untuk mengekspresikan apa yang disebut ‘sustainable architecture’. Istilah atau terminologi yang sering kita dengar misalnya: enviromental design, green design, dan ecological design.

Di abad ke-21, fenomena urbanisasi dan kota-kota yang mulai berkembang membuat gagasan sustainable architecture menjadi sangat signifikan. Perkembangan dan perubahan pada suatu kota juga akan menghadapi suatu krisis, kota tersebut dapat kehilangan karakter sebagai sense of belonging (Tweed & Sutherland, 2007). Krisis yang kedua yaitu perubahan lingkungan yang mendorong masyarakat kepada hunian ramah lingkungan yang bisa beradaptasi terhadap lingkungan (Keiner, 2005).

Eco-cultural

Sustainable architecture mempunyai definisi yang cukup luas. Dalam perkembangannya, terdapat beberapa pendekatan (logic) untuk mencapai sustainable architecture. Salah satunya ialah pendekatan eco-cultural. Pendekatan ini memberikan definisi baru atas sustainable architecture yang oleh UNESCO dideskripsikan sebagai “whole life sustainable”. Arsitektur tidak hanya tentang teknologi ramah lingkungan tetapi juga melibatkan identitas lokal.

Definisi mengenai eco-cultural sendiri berbeda di banyak negara. Banyak variasi pendekatan yang dilakukan, seperti menerapkan kembali arsitektur vernakular dan disesuaikan dengan arsitektur kontemporer. Hal itu biasanya terwujud dalam material yang digunakan dan metode konstruksi bangunan.

Kanchanjunga Apartments

Kanchanjunga Apartments.
Sumber: Pinterest

Apartemen 32 lantai ini terletak di Mumbai dan terlihat seperti apartemen modern pada umumnya. Namun, apartemen ini memiliki orientasi tertentu untuk merespon iklim dan menangkap angin. Hal yang menonjol dari apartemen karya Charles Correa ini ada pada teras yang diambil dari komponen rumah tradisional India. Teras ini juga berfungsi sebagai respon pasif terhadap cahaya matahari dan tampias air hujan.

Banyak metode untuk mewujudkan sustainable architecture yang tiap-tiap metodenya memiliki standar dan konsep yang bervariasi. Eco-cultural hanya salah satu contoh, yang pada praktiknya sangat berbeda dengan konsep eco-technology.

Regional design adaptation

Mengadaptasi desain regional pada penerapan eco-culture mungkin merupakan pilihan yang baik. Bangunan yang didesain tidak hanya ditujukan untuk merespon iklim dan topografi di mana ia dibangun, namun juga karena pola masyarakat, interaksi sosial, dan aktivitas sehari-hari yang terjadi di tempat tersebut.

Di Indonesia, eco-culture dan regional design adaptation mungkin dapat dilihat di bangunan arsitektur indis. Meskipun tidak merespon gaya hidup masyarakat pribumi, arsitektur indis merespon iklim dengan mengadaptasi arsitektur tropis.

Loji Gandrung Solo. Sumber: www.propertyinside.id

Lalu bagaimana dengan sekarang? Apakah praktik arsitektur di Indonesia sudah berjalan ke arah sustainable? Dan apakah metode yang diambil sudah tepat?

Kontributor               : Lana Annisa D.

Editor                         : Diasti Sukma E.

Poster                        : Agni Flamiadi

Referensi:

Adeyeye, Kemi & Emmit, Stephen & Qtaishat. 2018. Towards an Integrated Eco-Cultural Regional Architecture.

https://www.researchgate.net/publication/328021794 (diakses pada 29 Juli 2019)

Pagnotta, Biran. 2011. AD Classic: Kanchanjunga Appartements/Charles Correa.

https://www.archdaily.com/151844/ad-classics-kanchanjunga-apartments-charles-correa/ (diakses pada 29 Juli 2019)

Kultur, Sinem. Role of Culture in Sustainable Architectur. Bahcesehir University, Turkey.

Add comment

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.

Most popular

Most discussed